Komunikasi FISIP UNSOED Sukses Gelar Praktikum Teknik Kehumasan

Bila mahasiswa mengerjakan ujian akhir di ruang kelas boleh jadi merupakan sebuah pemandangan yang umum dijumpai, namun bila ujian akhir dalam bentuk penyelenggaraan sebuah event ? Beranjak dari komitmen untuk memastikan lulusannya menjadi sosok yang cerdas dan dapat diandalkan, Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP UNSOED melalui matakuliah Teknik Kehumasan menyelenggarakan  “Pesta Kreasi Anak – Bermain, Belajar, Berbudaya”  sebagai implementasi konten praktikum matakuliah ini.

Menurut dosen pengampu matakuliah, Mite Setiansah, M.Si terungkap, bahwa event adalah salah satu dari materi perkuliahan ini selain, press release, negoisasi, lobby serta sponsorship. “Dalam semiloka kehumasan yang diselenggarakan perhumas beberapa waktu silam, diidentifikasi bahwa freshgraduate kehumasan seringkali masih gagap dalam menyelenggarakan event. Oleh karenanya, kami dari Komunikasi UNSOED berusaha untuk menjawab kritik tersebut dalam bentuk  ujian praktikum penyelenggaraan event sebagai solusinya”, tutur Mite yang juga merupakan ketua jurusan ilmu komunikasi ini. Mite menambahkan, ternyata mahasiswa merasa lebih tertantang dan bersemangat untuk mengeksplorasi ide dan gagasan. Pada dasarnya, seluruh konsep kegiatan, baik tema maupun format acara, mereka sendiri yang merencanakan dan mengorganisasikannya. Dosen hanya berperan sebagai fasilitator dalam memberi gambaran, tips dan konsekuensi dari pilihan tema tersebut.

Dalam ujian akhir yang diikuti oleh mahasiswa pada peminatan kehumasan Angkatan 2009 ini, tema yang dipilih adalah bermain, belajar dan berbudaya. Pilihan tersebut dipilih, karena keprihatian saat melihat realitas bahwa saat ini permainan anak saat ini banyak yang kurang mengolah aspek psikomotorik dan nyaris tercerabut dengan akar budayanya. Acara yang sukses digelar pada Minggu (15/1) kemarin, berlangsung di Gedung Harmoni diikuti oleh para siswa TK dan SD se-Purwokerto & Banyumas. Dalam momen tersebut, anak-anak mengikuti kegiatan lomba mewarnai, mendongeng, peragaan busana serta diisi juga dengan talkshow dari psikolog serta stand alat permainan tradisional.

Proficiat Komunikasi FISIP UNSOED ! Maju Terus Pantang Menyerah! (Wis)

Mahasiswa MAP Unsoed Go Internasional

JAKARTA, KOMPAS.com — Program Magister Ilmu Administrasi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Jawa Tengah, memberangkatkan lima mahasiswa penerima Beasiswa Unggulan ke University of Malaya pada 9 September 2011.

Redaktur Eksekutif Redaksi Pemberitaan Unsoed Alief Einstein dalam siaran persnya yang diterimaKompas, Jumat (9/9/2011), menyebutkan, kelima mahasiswa tersebut adalah Chasidin, Putri Amal Wijaya, Fajar Rezky Aprilian, Suryo Wibisono, dan Chafid Diyanto.

Mereka akan menjalani program Transfer Credit di University of Malaya, Malaysia, selama satu semester sebagai tindak lanjut dari kerja sama kesepahaman joint programme antara Unsoed dan University of Malaya yang didukung oleh Beasiswa Unggulan Biro Perencanaan dan Kerja Sama Luar Negeri Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan Nasional.

Selain itu, Dr Ali Rokhman MSi selaku Ketua Program Magister Ilmu Administrasi/MAP Unsoed dijadwalkan akan mengikuti The 6th International Conference on Business and Management Research yang diselenggarakan oleh Atenao Business School University of Manila pada 27-28 Oktober 2011 di Manila, Filipina, juga atas biaya dari Beasiswa Unggulan Biro Perencanaan dan Kerja Sama Luar Negeri Setjen Kemendiknas.

“Para peserta tersebut nantinya akan mempresentasikan masing-masing makalah yang bertemakan sejumlah isu kebijakan dan manajemen pendidikan di Indonesia, seperti program World Class University, desetralisasi pendidikan, kebijakan pendidikan pesantren, sampai dengan pendidikan multikultur sebagai basis penanggulangan terorisme,” kata Alief. 

Ali Rokhman Raih The Best Paper

JAKARTA – Dr Ali Rokhman MSi, ketua Program Magister Ilmu Administrasi, Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED), Purwokerto, Jawa Tengah, meraih the best paper di International Conference on Leadership Learning Theories and Application (ELLTA). Atas keberhasilan itu, doktor Information Management Sciences, Asahi University, Jepang, 2002, ini memperoleh Award 300 pound dan langsung diprioritaskan masuk jurnal internasional.

Konferensi internasional tersebut diikuti lebih dari 200 paper, berlangsung di University Sains Malaysia (USM), Pulau Penang, Malaysia, beberapa waktu lalu. Kegiatan ilmiah internasional itu diselenggarakan oleh Exploring Leadership and Learning Theories Association (ELLTA), suatu asosiasi akademik nirlaba yang berbasis di Swedia.

Pria kelahiran Brebes, 17 Oktober 1967, yang tahun lalu menjadi Visiting Academic Staff di University of Technology Sydney dan peneliti tamu (research fellowship) di Asahi University Japan, 2003 ini, menyampaikan paper berjudul The Importance of E-Leadership and Workplace Learning for E-Government Implementation in Indonesia, rn ed burhanuddin belia

FKIK UNSOED Gelar Konferensi Internasional Pendidikan Kesehatan Lintas Profesi, Menuju Kolaborasi Para Praktisi Kesehatan

Penyelenggaraan layanan kesehatan yang baik  sejatinya adalah sebuah layanan yang terintegrasi dari tiap-tiap praktisi kesehatan itu sendiri, seperti tenaga medis, farmasis, ahli nutrisi, perawat dan manajer kesehatan masyarakat.    Untuk menuju pemahaman tersebut, maka diperlukan suatu proses pembelajaran secara terintegrasi antar profesional di dunia kesehatan sedini mungkin, khususnya saat studi di perguruan tinggi kedokteran dan kesehatan, sehingga terbangun karakter dan kepribadian para lulusannya yang mampu bekerjasama dalam memberikan kepuasan layanan pada pelanggan.  Hal ini diungkapkan oleh Rektor UNSOED, Prof. Edy Yuwono, Ph.D dalam pembukaan The 1st International Conference in Medicine and Health Science : Interprofessional Education, Walking Through Collaborative Learning to Collaborative Practice, yang diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran & Ilmu-ilmu Kesehatan, (29/1) di Hotel Horison, Purwokerto. Ditambahkan Prof. Edy Yuwono, Ph.D., hakikat proses pembelajaran adalah bagaimana mampu mendewasakan diri melalui kemampuan berinteraksi  yang baik,  mampu bekerja dalam team work yang menekankan pada apresasi terhadap profesionalisme. Untuk itu, kapasitas tersebut seyogyanya  diintegrasikan dalam kurikulum dan diinternalisasikan dalam pelaksanaan pembelajaran di kampus, sehingga akan memudahkan melahirkan lulusan yang berkuallitas dalam bidangnya sekaligus berfikir sinergis dengan bidang-bidang yang terkait dengan dirinya.

Seminar yang akan berlangsung selama 3 hari ini, sesungguhnya mengetengahkan isu baru dalam proses pendidikan kedokteran dan kesehatan di Indonesia. Dalam rilis yang diterima oleh redaksi dari Panitia diungkapkan, Interprofesional Education merupakan hal yang masih baru di Indonesia di mana sejumlah riset menunjukkan, mereka yang telah mengalami proses pembelajaran interprofesi sejak awal pembelajaran, cenderung memiliki kemampuan yang lebih baik dalam bekerjasama dan berkomunikasi satu sama lain. Selain itu, mereka memiliki kemampuan untuk mengembangkan sistem pelayanan kesehatan dengan tidak hanya meningkatkan kualitas layanan melainkan juga memberikan perawatan  yang lebih baik di mana muaranya adalah pada pencapaian tingkat kepuasan pasien yang lebih baik. Melalui konferensi internasional ini, diharapkan menjadi ajang pertukaran informasi diantara para pemangku kepentingan dalam bidang kedokteran dan ilmu-ilmu kesehatan sehingga menginspirasi sekaligus merealisasikannya dalam proses pembelajaran di bidang keprofesian kesehatan yang lebih kolaboratif.

Tema yang diangkat dalam konferensi ini meliputi interprofessional education, clinic and patient safety, biomedical science sertacommunity health and medicine. Dalam konferensi ini, Fakultas Kedokteran & Ilmu-ilmu Kesehatan UNSOED menghadirkan sembilan pembicara, yakni Prof. Dr. Lisa Mc Kenna (Monash University, Australia), Prof. Vivian Wingyan Lee (The Chinese University of Hongkong), Prof. Dr. Iwan Dwi Prahasto (UGM), Prof. Dr. Fasich, Apt (UNAIR), Prof. Dr. Surakit Natisuwan (Mahidol University, Thailand), Prof. Dr. Ir. Budi Susilo Soepandji (Lemhanas), Prof. Dr. Sunartini Hapsoro, dr. Sp.A(K) (UGM), M.Affandi, MAN (UMY) dan Prof. Dr. Umar Fahmi Achmadi (UI). Sebagai informasi, Fakultas Kedokteran & Ilmu-ilmu Kesehatan, merupakan fakultas ke-7 dari delapan fakultas yang ada di UNSOED. Di bawah kepimpinan dr. Hj. Retno Widiastuti, M.S., sebagai dekan, fakultas ini tercatat memiliki enam jurusan, yakni Kedokteran Umum, Kedokteran Gigi, Farmasi, Keperawatan, Kesehatan Masyarakat dan Ilmu Gizi yang

Proficiat FKIK UNSOED ! Maju Terus Pantang Menyerah (Wis)

DPR Harus Punya Badan Kehormatan yang Independen

Jakarta – Komposisi Badan Kehormatan (BK) DPR yang diisi dari perwakilan partai dianggap tidak independen dalam menghadapi kasus-kasus yang terkait dengan anggota DPR. Karena itu, BK harus diisi oleh orang-orang yang bebas dari partai politik.

“Demi rasa keadilan bagi para anggota DPR dan tegakknya demokrasi. Badan Kehormatan DPR yang lebih independen adalah sebuah keniscayaan,” terang Peneliti Senior LIPI, Ikrar Nusa Bhakti.

Hal tersebut disampaikan Ikrar saat menjadi saksi ahli dalam sidang panel Judicial Review UU No 27 Tahun 2009 tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah di Gedung MK, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Selasa (29/11/2011).

Ikrar menambahkan, beberapa lembaga lain seperti KPK, KPU, dan Dewan Pers sudah melibatkan pihak luar demi menjaga independensi, keadilan dan akuntabilitas Badan Kehormatan mereka. Hal yang sama juga harus dilakukan oleh DPR agar bisa menjaga independensi.

“Merupakan suatu hal yang sangat baik apabila DPR juga membuka diri. Melibatkan pihak luar dan masyarakat sebagai anggota tidak tetap BK DPR merupakan hal yang baik,” imbuhnya.

Ikrar juga tidak setuju dengan rangkap jabatan anggota DPR. Menurutnya, anggota DPR harus menanggalkan semua jabatan selain pekerjaan mereka sebagai wakil rakyat, agar dapat fokus sebagai wakil rakyat.

“Rangkap jabatan dilarang agar tidak terjadi abuse of power. Selain itu agar para anggota Dewan dapat lebih memusatkan perhatian pada pekerjaan utamanya,” imbuhnya.

Sementara itu ahli lain yang dihadirkan, Andrinof Chaniago, menyatakan BK DPR sering kali tidak bisa menindaklanjuti laporan masyarakat dan terkesan mandul. Anggota DPR dinilai lebih lantang menyuarakan sesuatu apabila terkait mengenai kepentingan mereka sendiri.

“Desakan masyarakat untuk memperbaiki kinerja dan tata kelola dewan dan partai politik hampir tidak dihiraukan. Tapi mereka malah minta dibangun gedung mewah, program dana aspirasi, studi banding dan kunjungan kerja yang tidak efektif,” katanya.

Andrinof juga sependapat dengan Ikrar yang menilai harus adanya pembentukan komisi etik dan pengawas independen. Nantinya, komisi itu berfungsi untuk menjamin tegaknya norma etika DPR dan perbaikan sistem pengawasan terhadap anggota Dewan.

“Pelanggaran etika yang tidak ditangani secara independen dan obyektif serta rangkap pekerjaan akan berpengaruh pada produk pengawasan legislasi dan pengawasan anggaran,” ujarnya.

Uji materi itu diajukan oleh aktivis petisi 50 Chris Siner Key Timu dan Judilherry Justam, bersama Muhammad Chozin Aminullah. Mereka memohon majelis hakim menguji materi Pasal 123, 124 ayat (1), Pasal 234 ayat (1) huruf f, Pasal 245 ayat (1), Pasal 302 ayat (1) huruf f, Pasal 353 ayat (1) huruf f yang mengatur BK DPR. Selain itu, pemohon juga mengajukan Pasal 208 ayat (2), Pasal 277 ayat (2), Pasal 327 ayat (2), Pasal 378 ayat (2) yang mengatur larangan rangkap jabatan.

Sumber: detik.com